KEBUDAYAAN KHAS PEKALONGAN

Bicara tentang Pekalongan maka yang ada dibenak kita adalah Batik. Ya, Kota kecil yang padat dipesisir pantai utara Jawa ini dijuluki sebagai Kota Batik. Oleh karena itu kota ini memiliki kesenian budaya warisan luhur dunia yang perlu dilestarikan. Julukan World’s City of  Batik lebih universal ditelinga kaum modern dunia. Kota ini juga menyimpan budaya dan kearifan lokal yang tak kalah menarik dengan yang lainnya. Mengenai Pekalongan terdapat beberapa kebudayaan yang waiib anda diketahui diantaranya:

1. Tari Sintren 

Tari Sintren ini merupakan tarian khas dari Pekalongan yang mempunyai daya Magis/Mistis. Dikarenakan asal-usul dari tari sintren ini sendiri berasal dari kisah cinta seorang Raden Sulandhono dan Sulasih putri Kalisalak, Batang.
Cinta dari kedua insan ini tidak direstui oleh orang tua Raden Sulandhono yaitu Ki Bahurekso dan Dewi Rantamsari, sehingga si Raden Sulandhono lebih memilih untuk pergi bertapa sedangkan Sulasih memilih menjadi seorang penari. Namun, keduanya tak jarang melakukan pertemuan secara ghaib yang diatur oleh Dewi Rantamsari (Ibu Raden Sulandhono) dengan cara mengundang Roh Bidadari dan Roh dari Raden Sulandhono yang sedang bertapa untuk masuk dan menyatu ke dalam tubuh Sulasih.
Oleh karena itu dengan profesi sebagai penari, Sulasih inilah yang menjadi ikon terbentuknya Tari Sintren ini. Tari ini dilakukan oleh perempuan yang masih perawan dengan diiringi gendhing, dan memakai busana khas tersendiri.

2.Simtudh-Dhuror/Terbangan


Hal ini bisa disamakan dengan Rebbana, namun secara sejarah Pekalongan merupakan daerah pesisir yang mempunyai basic religius yang sangat kental sebagaimana daerah pesisir seperti Demak, Cirebon, dan Tuban dalam penyebaran agama islam oleh Walisongo.
Kegiatan simtudh-dhuror ini yaitu melantunkan sholawatan, puji-pujian, dan membaca kitab yang bernafaskan islami dengan diiringi musik Terbangan/Rebbana oleh sekelompok orang. Terlebih dengan adanya acara keliling yang dipandu oleh para Ulama’, Kiai, dan Habaib kegiatan ini terus berlangsung, bisanya saat Maulid Nabi Muhammad SAW.

3. Nyadran / Sedhekah Laut


Nyadran atau Sedhekah Laut merupakan kebudayaan yang masih dilestarikan masyarakat Pekalongan khususnya daerah pesisir Pantai Wonokerto dan Pantai Pasir Kencana
Dengan membawa sesaji berupa jajan pasar, kepala Kerbau, hasil panen di kebun, wayang Pendhowo Limo dan  Dewi Sri yang dibawa oleh kapal-kapal yang sudah dihias untuk kemudian dilarung (dihanyutkan ke laut).

Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Syuro (Tanggal Jawa) yang dimaksudkan sebagai penolak bala’, silaturrohim dan sebagai wujud rasa syukur terhadap Tuhan yang Kuasa atas limpahan nikmat hasil laut yang telah diberikan kepada masyarakat. Pada malam harinya diadakan kegiatan pertunjukan Wayang Kulit yang merupakan tradisinya untuk menghormati penguasa Pantai Utara Jawa, hal ini merupakan wujud toleransi terhadap alam.

4. Sedhekah Bumi 

Sedhekah Bumi di Pekalongan miliki nuansa yang berbeda dengan daerah yang lainnya, mungkin dikarenakan wujud akulturasi budaya yang semakin berkembang.

Di Pekalongan kegiatan ini diadakan dimakam-makam maupun di Balai Desa dengan cara membawa Golong (nasi lauk-pauk  yang dibungkus daun pisang) maupun jajan pasar yang dibawa oleh warga dari tiap-tiap rumah keluarga dan di adakan secara bersamaan acara doa selamatan dan Tahlil umum bagi sesepuh Desa, Ulama’ kampung, ahli kubur masyarakat dan semua yang telah berjasa

Terhadap daerahnya masing-masing yang dipimpin oleh Tokoh setempat kemudian melakukan kegiatan makan bersama-sama setelah sesi Doa dilantunkan. Dalam acara ini dimaksudkan agar diberi keselamatan, wujud rasa Syukur atas nikmat yang diperoleh di Dunia, dan mengingatkan kita pada sang pencipta agar dalam kehidupan dapat berbuat kebaikan mengingat kematian itu tiada yang tahu.

5.Khoul Akbar Pekalongan / Sya’banan


Acara Khoul merupakan acara yang bernafaskan islami ajaran Walisongo yang biasanya diadakan pada 14 Sya’ban (Ruwah) setahun sekali untuk mengenang jasa para Ulama’ penyebar agama islam di Pekalongan diantaranya alm. Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al-Athos.

Beliau merupakan Ulama’ kelahiran Hadramaut Timur Tengah yang kemudian berlayar ke Jawa dan menyebarkan agama islam di Pekalongan. Beliau dimakamkan di Sapuro Pekalongan, tempat ini merupakan adanya masjid tertua di Pekalongan dan sebagai poros religius bagi pewisata ziarah.

Semoga beberapa informasi mengenai kebudayaan yang ada di Pekalongan yang ada diatas yang hanya saya ketahui beberapa ini dapat memberi manfaat dan wawasan bagi kalian yang membacanya. 

Jangan lupa untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa kita agar menjadi bangsa yang mempunyai jati diri. Salam budaya salam Indonesia.
Share This :

Related Post

1. Harap gunakan kalimat komentar dengan benar
2. Dimohon untuk tidak meninggalkan situs blog
3. Dilarang keras untuk menggunakan kalimat-kalimat kasar!!
4. Tidak meninggalkan komentar artikel blog
5. Gunakan bahasa yang sopan sebelum berkomentar

sentiment_satisfied Emoticon